Profesi & Profesionalisme


Profesi & Profesionalisme


Profesionalisme berasal dari akar kata “profesi” . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), profesionalisme adalah “tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi.” Sedangkan profesi merupakan suatu kelompok yang memiliki kekuasaan tersendiri dan karena itu mempunyai tanggung jawab khusus. Suatu profesi disatukan oleh latar belakang pendidikan yang sama serta memiliki keahlian yang tertutup dari orang lain (Bertens, 2005). Orang yang bergabung dengan kelompok profesi memiliki pengetahuan dan keahlian yang tidak dimiliki kebanyakan orang lain. Anggota profesi ini diatur oleh kode etik dan menyatakan komitmen terhadap kemampuan, integritas dan moral, altruism, dan dukungan demi kesejahteraan masyarakat. (Cruess S.R & Cruess R.L., 2012).
Profesi, profesional, dan profesionalisme memiliki pengertian yang umum dan dapat digunakan untuk profesi lain. Karena hal tersebut, maka istilah “profesionalisme kedokteran (medical professionalism)” telah dikembangkan dan digunakan agar memiliki pengertian yang spesifik dalam praktik kedokteran (Cruess S.R. & Cruess R.L., 2009). Topik profesionalisme yang diangkat oleh penulis pun akan spesifik tentang profesionalisme kedokteran. Profesionalisme cukup sulit didefinisikan karena konsepnya yang rumit dan multidimensional (Arnold dan Stern, 2006; Spandorfer eds et al, 2010). Istilah profesionalisme sendiri telah digunakan untuk merujuk seni dan etika dalam dunia kedokteran (Wear dan Aultman 2006).
Profesionalisme” adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental  dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk  senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya.
Di dalam preambul Physician Charter (Brennan, et al 2002) profesionalisme didefinisikan sebagai kontrak dasar antara kedokteran dengan masyarakat. Wear dan Aultman (2006) mendefinisikan profesionalisme sebagai pemeliharaan kompetensi yang sangat penting untuk praktik, pembinaan, serta pemajuan ilmu pengetahuan, etik, dan perawatan penuh kasih dalam melayani pasien dan masyarakat. Arnold dan Stern (2006) memberikan definisi bahwa profesionalisme ditunjukkan melalui sebuah dasar kompetensi klinis, kemampuan berkomunikasi, pemahaman etika dan hukum yang dibangun oleh harapan untuk melaksanakan prinsip-prinsip profesionalisme: excellence (keunggulan), humanism (humanisme), accountability (akuntabilitas), altruism (altruisme).
Teknik Industri adalah suatu teknik yang mencakup bidang desain, perbaikan, dan pemasangan dari sistem integral yang terdiri dari manusia, bahan-bahan, informasi, peralatan dan energi. Hal ini digambarkan sebagai pengetahuan dan keterampilan yang spesifik pada metematika, fisika, dan ilmu-ilmu sosial bersama dengan prinsip dan metode dari analisis keteknikan dan desain untuk mengkhususkan, memprediksi, dan mengevaluasi hasil yang akan dicapai dari suatu sistem. Teknik Industri berkenaan dengan proses untuk memperbaiki performansi keseluruhan dari sistem yang dapat diukur dari ukuran-ukuran ekonomi, pencapaian kualitas, dampak  terhadap lingkungan, dan bagaimana semua hal tersebut dapat memberikan manfaat pada kehidupan manusia. Teknik Industri juga dapat diartikan sebagai suatu teknik manajemen sistem, yaitu suatu teknik yang mengatur sistem tersebut secara keseluruhan dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang terkait. Aspek-aspek tersebut antara lain manusia sebagai aspek terpenting, mesin dan material. Teknik Industri mengaturagar sistem tersebut berjalan dengan cara yang paling produktif, efektif dan efisien
Etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act as the performance index or reference for our control system”. Dengan demikian, etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulancmanusia di dalam kelompok sosialnya. Dengan  demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu
sendiri. Menurut De George profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.
Profesionalisme merupakan suatu tingkah laku, suatu tujuan atau suatu rangkaian kwalitas yang menandai atau melukiskan coraknya suatu “profesi”. Profesionalisme mengandung pula pengertian menjalankan suatu profesi untuk keuntungan atau sebagai sumber penghidupan. Disamping istilah profesionalisme, ada istilah yaitu profesi. Profesi sering kita artikan dengan “pekerjaan” atau “job” kita sehari-hari. Tetapi dalam kata profession yang berasal dari perbendaharaan Angglo Saxon tidak hanya terkandung pengertian “pekerjaan” saja. Profesi mengharuskan tidak hanya pengetahuan dan keahlian khusus melalui persiapan dan latihan, tetapi dalam arti “profession” terpaku juga suatu “panggilan”. Dengan begitu, maka arti “profession” mengandung dua unsur. Pertama unsure keahlian dan kedua unsur panggilan. Sehingga seorang “profesional” harus memadukan dalam diri pribadinya kecakapan teknik yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaannya, dan juga kematangan etik. Penguasaan teknik saja tidak  membuat seseorang menjadi “profesional”. Kedua-duanya harus menyatu.  Berkaitan dengan profesionalisme ini ada dua pokok yang menarik perhatian dari keterangan Encyclopedia-Nya Prof, Talcott Parsons mengenai profesi dan profesionalisme itu.
PERTAMA ialah bahwa manusia-manusia profesional tidak dapat di golongkan
sebagai kelompok “kapitalis” atau kelompok “kaum buruh”. Juga tidak dapat
dimasukkan sebagai kelompok “administrator” atau “birokrat”.
KEDUA ialah : bahwa manusia-manusia profesional merupakan suatu kelompok  tersendiri, yang bertugas memutarkan roda perusahaan, dengan suatu leadership
status. Jelasnya mereka merupakan lapisan kepemimpinan dalam memutarkan roda
perusahaan itu. Kepemimpinan di segala tingkat, mulai dari atasan, melalui yang
menengah sampai ke bawah.
Untuk lebih menghayati Kode Etik Profesi Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri Indonesia dalam operasionalisasi sesuai bidang masing masing, dan sadar sepenuhnya akan tanggung jawab sebagai warga negara maupun sebagai sarjana, akan panggilan pertumbuhan dan pengembangan pembangunan di Indonesia maka kami Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri bersepakat untuk lebih mempertinggi pengabdian kepada Bangsa, Negara dan Masyarakat. Selaras dengan dasar negara yaitu “PANCASILA” maka disusunlah kode etik profesi berikut ini yang harus dipegang dengan keyakinan bahwa penyimpangan
darinya merupakan pencemaran kehormatan dan martabat Sarjana Teknik dan Manajemen Industri Indonesia.
PASAL 1:
Dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri akan selalu mengerahkan segala kemampuan dan pengalamannya untuk selalu berupaya mencapai hasil yang terbaik didalam keluhuran budi dan kemanfaatan masyarakat luas secara bertanggung jawab.
PASAL 2:
Dalam melaksanakan tugas yang melibatkan disiplin dan pengetahuan lain, Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Indutstri akan senatiasa menghormati dan menghargai keterlibatan mereka, dan akan selalu mendayagunakan disiplin Teknik Indutri dan Manajemen Industri akan dapat lebih dioptimalkan dalam upaya mencapai hasil terbaik.
PASAL 3:
Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri bertanggung jawab atas pengembangan keilmuan dan penerapannya dimasyarakat, dan akan selalu berupaya agar tercapai kondisi yang  efisien dan optimal dalam segenap upaya bagi perbaikan dalam pembangunan dan pemeliharaan sistem.
PASAL 4:
Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dan di dalam melaksanakan tugasnya tidak akan melakukan perbuatan tidak jujur, mencemarkan atau merugikan sesama rekan sekerja.
PASAL 5:
Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri akan selalu bersikap dan bertindak bijaksana terhadap sesama rekannya dan terutama kepada rekan mudanya; selalu mengusahakan kemajuan untuk meningkatkan kemampuan dan kecakapan, bagi dirinya pribadi, bagi masyarakat maupun bagi pengebangan Teknik Industri dan Manajemen Industri di Indonesia (http://istmi.or.id).

1.     profesionalisme didefinisikan sebagai kontrak dasar antara kedokteran dengan masyarakat. Pengertian profesionalisme menurut…
a.      Talcott Parsons
b.     Brennan
c.      Wear Dan Aultman
d.     Arnold Dan Stern

2.     “profession” mengandung dua unsur. Yaitu…
a.      Pertama unsur pekerjaan dan kedua unsur keahlian
b.     Pertama unsur keahlian dan kedua unsur panggilan.
c.      Pertama unsur panggilan dan kedua unsur pekerjaan
d.     Pertama unsur kecakapan dan kedua unsur kemampuan

3.     Profesionalisme adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental  dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk
a.      mengusahakan kemajuan untuk meningkatkan kemampuan dan kecakapan
b.     pertumbuhan dan pengembangan pembangunan
c.      senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya
d.     menjalankan pekerjaannya, dan juga kematangan etik

4.     Profesionalisme berasal dari akar kata
a.      “profil”
b.     “provoke”
c.      “profesional”
d.     “profesi”

5.     Anggota profesi diatur oleh kode etik dan menyatakan komitmen terhadap kemampuan…
a.      integritas dan moral
b.     Altruism
c.      dukungan demi kesejahteraan masyarakat
d.     benar semua

Sumber:

Etika dan Profesi


Etika dan Profesi


Para filsuf  berpendapat bahwa etika profesi merupakan norma atau standar yang sah untuk mengatur perilaku professional dalam hubungan dengan klien atau bukan klien, etika itu haruslah identic dengan moralitas biasa atau intensifikasi dari moralitas itu. Dengan menuntut bagi diri mereka sendiri hak khusus untuk mengambil etika dari janji untuk melayani sesame, profesi telah kehilangan legitimasi.

Etika berkaitan dengan pertanyaan tentang bagaimana orang akan berperilaku terhadap sesamanya. Maryani T. Dan Ludigdo (2001) mendefinisikan etika sebagai, “Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang dianut oleh sekelompok atau segolongan manusia atau masyarakat atau profesi”. Menurut Sukamto, 1991 dalam Suraida, (2005: 118) etika secara umum didefinisikan sebagai nilai-nilai tingkah laku atau aturan-aturan tingkah laku atau aturan-aturan tingkah laku yang diterima dan digunakan oleh suatu golongan tertentu atau individu.

Etika sering disamakan dengan pengertian  akhlak dan moral, ada  pula ulama yang mengatakan bahwa akhlak  merupakan etika islam. Disini  akan dipaparkan perbedaan dari ketiga istilah tersebut. Secara etimologis kata etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos dan ethikos, ethos yang berarti sifat, watak, adat, kebiasaan, tempat yang baik. Ethikos berarti susila, keadaban, atau kelakuan dan perbuatan yang baik. Kata “etika” dibedakan dengan kata “etik” dan “etiket”. Kata etik berarti kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak atau nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Adapun kata etiket berarti tata cara atau adat, sopan santun dan lain sebagainya dalam masyarakat beradaban dalam memelihara hubungan baik sesama manusia. Sedangkan kata ‘etika’ dalam kamus besar bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988 – mengutip dari Bertens 2000), mempunyai arti :
1.     Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)
2.     Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
3.     Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

PROFESI, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. PROFESIONAL, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi
waktu luang.

Terdapat definisi profesi menurut beberapa ahli seperti berikut ini:
SCHEIN, E.H (1962) mengemukakan bahwa profesi adalah suatu kumpulan atau set pekerjaan yang membangun suatu set norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya yang khusus di masyarakat.
HUGHES, E.C (1963) berendapat bahwa profesi menyatakan bahwa ia mengetahui lebih baik dari kliennya tentang apa yang diderita atau terjadi pada kliennya
DANIEL BELL (1973) berpendapat bahwa profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada keilmuan tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan ketrampilan teknis dan moral serta bahwa perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam masyarakat
PAUL F. COMENISCH (1983) berpendapat bahwa profesi adalah "komunitas moral" yang memiliki cita-cita dan nilai bersama,

Struktur atau ciri profesi tidak dapat diselidiki dengan menggunakan bahan-bahan dari sejarah, sosiologi, teori politik dan ekonomi untuk menguraikan apa yang senyatanya ada dalam praktek, harapan dan tujuan kaum professional, klien, masyarakat dimana profesi itu ada. Profesi bukanlah ciptaan asal-asalan masyarakat atau pelaku haus kekuasaan, melainkan merupakan praktek yang dengan teliti disusun untuk mengabdi pada klien secara sah. Terdapat beberapa ciri khas dari profesi. Berikut ini adalah ciri khas nya:

1.     Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
2.     Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3.     Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
4.     Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus
5.     Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.


1.     profesi adalah "komunitas moral" yang memiliki cita-cita dan nilai bersama adalah definisi profesi dari
a.     SCHEIN, E.H
b.     HUGHES, E.C
c.     DANIEL BELL
d.     PAUL F. COMENISCH

2.     Berikut ini adalah ciri profesi, kecuali…
a.      Sebagai tata cara atau adat, sopan santun dan lain sebagainya dalam masyarakat beradaban dalam memelihara hubungan baik sesama manusia
b.     Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
c.      Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
d.     Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.

3.     Berikut ini adalah arti etika menurut Bertens, kecuali…
a.      Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak)
b.     kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi
c.      Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
d.     Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

4.     Berikut ini adalah nilai kemanusiaan yng terdapat pada profesi, kecuali…
a.      Keselamatn
b.     Keamanan
c.      Pengetahuan
d.     Kelangsungan hidup

5.     Secara etimologis kata etika berasal dari bahasa Yunani yaitu
a.      ethos dan ethikos
b.     ethios dan ethikos
c.      ethos dan ethicos
d.     ethios dan ethicos
Sumber:
landasan etika profesi 2000 daryl Koehn, Daryl. 2000. Landasan Etika Profesi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

ANALISA JURNAL PETA PETA KERJA

Analisis Penulisan Jurnal

PETA - PETA KERJA

Oke Sofyan,Ita Novita Sari
Mahasiswa Jurusan Teknik Industri, Universitas Gunadarma, Jakarta
Kampus J Universitas Gunadarma Jl. KH. Noer Ali, kalimalang, Bekasi
Telp: (021) 94122603
Email: brekele_bmc@yahoo.co.id, okeita-oke.blogspot.com


  1. Pada judul menggunakan font Times New Roman huruf kapital.
  2. Font size yang digunakan pada judul adalah 14.
  3. Pada abstrak hurufnya menggunakan huruf miring (italic).
  4. Kata kunci yang digunakan dalam jurnal sebanyak 3 buah.
  5. Pada jurnal ini terdapat 6 bab.
  6. Pada bab 1 terdapat 3 sub bab, yaitu latar belakang, perumusan masalah dan tujuan penulisan.
  7. Pada bab 2 terdapat 5 sub bab yaitu definisi peta kerja, lambang yang digunakan, macam macam peta kerja, peta proses operasi dan peta aliran operasi.
  8. Pada bab 3 terdapat 3 sub bab yaitu deskripsi, peralayan dan bahan yang digunakan dan gambar produk.
  9. Pada bab 4 terdapat 2 sub bab yaitu pembahasan dan analisa.
  10. Pada bab 5 terdapat 2 sub bab yaitu kesimpulan dan saran.
  11. Pada masing-masing bab dan juga sub bab hurufnya menggunakan bold.
  12. Font style yang digunakan pada jurnal adalah Times New Roman
  13. Font size yang digunakan pada jurnal adalah 12.
  14. Pada daftar pustaka, buku yang dijadikan referensi sebanyak 3 buah.
  15. Gambar yang terdapat pada bab 3 sebanyak 2 gambar.
  16. Gambar yang terdapat pada bab 4 sebanyak 10 gambar.
  17. Pada jurnal ini menggunkan margin rata kanan kiri (Justify).
  18. Simbol yang digunakan pada sub bab yang terdapat pada bab 2 sebanyak 6 buah.
  19. Kalimat bahasa inggris ditulis dengan huruf miring (italic) contohnya: hardboard, cutter dan discover.
  20. Pada setiap awal kalimat diawali dengan huruf kapital.
  21. Pada setiap akhir kalimat diakhiri dengan tanda titik (.).
  22. Pada penyebutan bagian bagian menggunakan number allignment : left. Contohnya 1.
  23. Pada setiap gambar dilengkapi dengan keterangan gambar yang sesuai dengan posisi bab.
  24. Didalam penulisan daftar pustaka, nama penulis ditulis dengan nama belakang dahulu yang diikuti dengan tanda koma (,) kemudian disusul dengan nama depannya.
  25. Didalam penulisan daftar pustaka, judul buku ditulis dengan huruf miring (italic).
  26. Didalam penulisan daftar pustaka, kota terbit buku ditulis lebih dahulu kemudia disusul dengan penerbitnya
  27. Didalam penulisan daftar pustaka, tahun penerbitan buku ditulis paling akhir
  28. pada setiap kutipan teori, ditulis nama penulis beserta tahun terbitnya. contoh: (wignjosoebroto, 1992).
  29. nama asosiasi ditulis dengan huruf miring (italic) dengan masing masing awal kata ditulis kapital. contoh: American Society of Mechanical Engineers (ASME).
  30. setiap awal kalimat dari awal paragraf ditulis dengan huruf menjorok kedalam (increase indent). 
sumber jurnal: https://okesofyan.files.wordpress.com/2011/11/jurnal-pap-yang-separuh.pdf

Formulasi masalah: Definisi Masalah Ilmiah

Karya tulis ilmiah merupakan tulisan mengenai argumentasi / pendapat dari penulis yang juga berisi  logika yang juga keberadaanya didukung dengan permasalahan yang didapatkan penulis dari lingkungan sekitar. Dalam proses penulisan karya ilmiah penulis menjalankan 2 tahap pekerjaan dalam merumuskan permasalahan karya ilmiah dan  menyelesaikan permasalahan ilmiah. Yaitu, tahap pertama, penulis mengeluarkan gagasannya dan juga pikirannya dengan menambahkan referensi dan juga bukti berupa membaca buku yang bisa dijadikan referensi, kemudian penulis juga dapat berdiskusi agar menemukan bentuk yang jelas dari permasalahan ilmiah tersebut. Kemudian tahap kedua, penulispun mengeluarkan pendapatnya dalam karya tulis ilmiah yang sedang dibuatnya. Proses inilah yang dinamakan dengan menggabungkan argumentasi/ pendapat yang juga berisi permasalahan yang didukung dengan bukti. Kedua proses tersebut saling terkait dan berpengaruh dalam karya tulis yang dikerjakan. Kedua proses tersebut harus berpadu dan sistematik agar dapat memberikan kejelasan mengenai permasalah ilmiah dari karya ilmiah tersebut. Semua alur dan isinya sangat dipengaruhi oleh campur tangan sang penulis.
Namun dalam penulisan karya tulis ilmiah, penulis bisa menjadi kebingungan dalam merumuskan masalah ilmiah. Penulis juga bisa keluar dari jalur yang sudah direncanakan dengan baik, hal ini biasanya disebabkan terpecahnya konsentrasi penulis pada hal lain yang tidak berhubungan dengan permasalahan ilmiah pada karya tulis ilmiahnya. Hal inilah yang menyebabkan tidak tersampaikannya hal yang diinginkan penulis dengan baik. Maka dari itu, penulis diharapkan lebih teliti dan cermat dalam merumuskan rumusan permasalahan ilmiah agar terhindar dari kesalahpahaman antara penulis dengan orang yang membaca karya tulis ilmiah tersebut. Dalam menulis karya ilmiahnya, penulis harus mampu merumuskan permasalahan dengan jelas dan spesifik agar penulis dapat menyelesaikan permasalahan ilmiah yang sedang dihadapi dengan solusi yang tepat.
Jadi, penulisan karya ilmiah dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah ilmiah yang didapatkan oleh penulis di lingkungan sekitar dengan menggabungkan logika, teori dan juga bukti yang didapatnya. Disini penulis merasa tertantang untuk dapat menjawab masalah yang ditemukannya. Permasalahan ilmiah adalah hal yang sangat berpengaruh dalam karya ilmiah ini. Karena keberadaanya ini yang sangat penting maka penulis harus dapat mengelompokkan permasalahan ilmiah yang kompleks menjadi rumusan yang lebih sederhana, jelas dan juga spesifik. Misalnya terdapat sebuah rumusan masalah seperti “BAGAIMANA PERAN USAHA RAKYAT DALAM PROSES PEREKONOMIAN INDONESIA?”. Rumusan yang dibuat tersebut belum bisa dikategorikan sebagai perumusan masalah yang jelas. Rumusan masalah yang dibuat seperti itu masih bisa menimbulkan pertanyaan lainnya. Misalnya, kategori usaha apa yang menjadi kategori penulis yang dijadikan masalah penelitian, apakah: usaha mikro, usaha menengah atau usaha besar? Jadi untuk mengahindari pertanyaan lain yang mengganjal maka penulis haruslah berupaya semaksimal mungkin dalam membangun rumusan yang lebih jelas dan lebih spesifik pula dibandingkan dengan rumusan yang sebelumnya. Hal ini bertujuan agar orang lain yang membacanya akan lebih mudah memahami masalah ilmiah apa yang sang penulis sedang coba selesaikan dan tidak menimbulakan pertanyaan lain yang dapat mengganjal orang yang membca karya tulis ilmiah tersebut. Jika penulis mampu memberikan rumusan masalah yang tepat maka penulis juga akan mampu myelesaikan permasalahan ilmiah yang dimilikinya. Jika penulis berhasil membangun karya tulis dari permasalahn ilmiah miliknya dengan baik, maka hal ini juga akan membuat orang-orang yang membaca karya tuls miliknya menjadi orang yang lebih peduli dengan permasalahan seperti itu. Ini juga dapat menimbulkan munculnya kembali kepedulian sosial yang semakin memudar. Disinilah letak keberhasilan penulis dalam membangun karya tulis ilmiahnya.


Easily Interested in Many Things

Fernanda Dyah Ayuningtyas
Lihat profil lengkapku

Gunadarma University

Gunadarma University
gunadarma
Diberdayakan oleh Blogger.